Selasa, 19 November 2013

Dedikasi

1 Korintus 15:58

Kuantitas dan kualitas waktu yang kita berikan kepada suatu perkara akan menunjukkan seberapa besar perhatian, prioritas dan dedikasi kita kepadanya. Orang yang setiap hari berolahraga, pastilah orang yang memprioritaskan kesehatan tubuhnya. Orang yang suka berdoa dan membaca Alkitab pastilah orang yang memprioritaskan hubungannya dengan Tuhan. Suami yang selalu menyediakan waktu makan atau berkumpul bersama-sama dengan istri dan anak-anaknya, pastilah suami yang berdedikasi tinggi terhadap keluarganya.

Nelson Mandela adalah pemimpi pembebasan kaum kulit hitam dari politik Apartheid yang diberlakukan orang kulit putih Afrika Selatan. Dia telah mendedikasikan waktu, tenaga pikiran bahkan kebebasannya sendiri, demi persamaan hak orang kulit hitam. Ia dikenal bukan karena ia ganteng atau berkharisma, tetapi karena kurang lebih 20 tahun menghabiskan waktunya di penjara. Semua dilakukannya dengan dedikasinya yang penuh pada keadilan.

Dedikasi yang penuh berbicara tentang mengalokasikan semua sumber daya yang kita miliki kepada satu prinsip yang kita pegang dan kita yakini. Sehingga terkadang menuntut kita berkorban. Karena orang yang berdedikasi penuh tidak pernah hitung-hitungan. Sekarang pertanyaan bagi kita apakah kita adalah orang yang berdedikasi dalam melakukan pekerjaan Tuhan? Apakah kita adalah orang yang berdedikasi penuh dalam melakukan persekutuan atau ibadah dengan Tuhan? Kita tahu bahwa jerih payah yang kita lakukan untuk pekerjaan Tuhan, tidak akan sia-sia. (AW)

Sabtu, 16 November 2013

Teruji dan Benar

Banyak orang menyebut diri Baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?
(Amsal 20:6)

Kita sering kecewa terhadap orang yang tidak setia. Seorang sanak keluarga berjanji akan menulis surat, tetapi bulan-bulan berlalu tanpa ada surat yang diterima. Seorang pendeta berkata bahwa ia akan mengunjungi bila kita sakit, tetapi ia tidak pernah datang ke rumah sakit atau ke rumah kita. Seorang sahabat setuju akan menemani kita dalam kemalangan, tetapi menelepon pun tidak. Banyak orang berkata akan mendoakan kita, tetapi mereka cepat melupakan kebutuhan kita. Seseorang berjanji akan melakukan suatu tugas penting bagi kita, tetapi tak pernah melakukannya. Kita bertanya-tanya, “Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?” (Amsal 20:6).
Kita tidak dapat berbuat banyak terhadap ketidaksetiaan orang lain. Tetapi kita dapat melakukan banyak hal untuk kesetiaan kita terhadap orang lain. Apabila kita berjanji, kita harus menepatinya. Bila kita berkata kepada seseorang bahwa kita akan berdoa baginya, kita perlu menindaklanjuti dan melakukannya. Apabila kita menyatakan kesetiaan dan kasih kepada orang lain, maka kita dapat melakukan hal-hal kecil yang menunjukkan kepada mereka bahwa kita serius.
Rasul Paulus mengatakan bahwa salah satu buah Roh adalah kesetiaan (Galatia 5:22). Allah akan menciptakan di dalam diri kita roh yang teguh jika kita menganggap serius apa yang kita katakan kepada orang lain tentang hal-hal yang akan kita lakukan bagi mereka, dan jika kita menepatinya.
Mintalah Allah menjadikan Anda orang yang dapat dipercaya, yakni orang yang teruji dan benar - DR

Disadur dari www.kidung.com

Tim M-AVI GIKKI Ambon




Vas Niat Baik

Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa
(Yakobus 4:17)

Dalam kartun Peanuts karya Charles Schulz, Marcie memberi bunga kepada gurunya. Tidak mau kalah, Peppermint Patty berkata kepada guru itu, “Saya berpikir untuk melakukan hal yang sama Bu, tetapi saya tidak pernah meluangkan waktu untuk melakukannya. Dapatkah Anda memakai vas yang berisi niat baik?”
Kita semua pernah mempunyai niat untuk melakukan sesuatu yang baik, tetapi kemudian gagal untuk menindaklanjuti niat itu. Kita mungkin ingin menelepon untuk mengetahui kabar seorang sahabat, atau mengunjungi seorang tetangga yang sedang sakit, atau menulis pesan untuk memberi dorongan kepada seorang yang terkasih. Tetapi kita tidak meluangkan waktu.
Beberapa orang tahu bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan ke surga, dan mereka berencana untuk memercayai-Nya kelak. Namun, mereka selalu menundanya. Mereka mungkin memiliki niat baik, namun hal itu tidak membawa keselamatan.
Sebagai orang kristiani, kita mungkin mengatakan bahwa kita ingin bertumbuh lebih dekat kepada Tuhan. Tetapi entah bagaimana, kita tidak menyediakan waktu untuk membaca firman Allah atau berdoa.
Yakobus telah memberi peringatan yang keras mengenai masalah tidak mengambil tindakan: “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa” (4:17).
Adakah sesuatu yang kita tunda? Tulislah kartu atau surat itu hari ini. Kunjungilah teman yang sakit itu. Jika Anda tahu bahwa Tuhan Yesus telah berkorban bagi kita semua di atas kayu salib, untuk menghapus semua dosa kita, satu kali dan untuk selamanya, maka bertindaklah, yaitu PERCAYA akan karya-Nya tersebut. 

Vas yang penuh niat baik tidak akan mencerahkan hari seseorang - AC

Disadur dari www.kidung.com (edit)

ALLAH YANG MUTLAK

Aku, Tuhan, tidak berubah
(Maleakhi 3:6)

Saya meragukan ketepatan timbangan badan yang terletak di kamar mandi kami. Karena itu saya telah belajar untuk memanipulasinya dengan cara saya sendiri. Saya dapat mengubah-ubah tombol kecil di samping timbangan, dan jika hal itu terlalu sulit, saya cukup memiringkan badan ke arah tertentu. Tujuannya adalah untuk memperoleh angka yang bagus semoga saja berkurang beberapa kilogram.
Kita hidup pada zaman di mana banyak orang merasa yakin bahwa tidak ada hal yang mutlak. Sikap melayani diri sendiri merajalela dan menginjak-injak hukum moral yang diberikan bagi perlindungan masyarakat. Budaya kita membanggakan "kebebasan" yang sesungguhnya merupakan perbudakan dari dosa (Roma 6:16,17).
Namun ada Allah yang mutlak dan timbangan-Nya selalu tepat. Bersama Dia, satu kilo adalah satu kilo, benar adalah benar, dan salah adalah salah. Dia berkata, "Aku, Tuhan, tidak berubah" (Maleakhi 3:6).
Bagi kita sebagai orang percaya, hal ini seperti besi baja yang menjadi tulang punggung rohani kita. Kita mendapatkan rasa percaya diri saat menghadapi kesulitan dan memperoleh keyakinan akan penggenapan setiap janji ilahi.
Apabila Allah dapat dengan mudah berubah pikiran, maka kehidupan kekal kita akan terus-menerus berada di dalam situasi yang membahayakan. Akan tetapi, karena Dia merupakan Pribadi Yang Tidak Berubah, maka kita "tidak akan lenyap" (ayat 6). "Tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi" (Ratapan 3:22,23)  - PR

Disadur dari www.kidung.com

Kamis, 07 November 2013

Allah Semesta Alam

Mazmur 8:4

Biasanya kita akan terkagum-kagum melihat pesta kembang api pada malam hari. Warna-warni yang indah bertebaran di angkasa malam membentuk pemandangan yang menakjubkan. Tetapi keindahan tersebut tidak pernah lama berlangsung karena kembang api itu berjatuhan dan akhirnya lenyap. Tetapi jika mata kita masih tetap menatap angkasa malam maka terlihat kerlap-kerlip bintang di kejauhan yang tidak berjatuhan padahal dia tidak bergantung pada sesuatu.

Pernahkah kita berpikir bagaimana Tuhan meletakkan bintang-bintang itu di atas sana? Bagaimana Dia melakukannya? Demikian juga pertanyaan yang sama akan kita ajukan terhadap kehadiran matahari dan perputaran bumi, angin yang berhembus, hutan yang lebat, hujan yang membasahi bumi, gurun yang tandus dan sebagainya. Bagaimana semua itu bisa teratur?

Banyak kali kita hanya melihat Tuhan sebagai Tuhan yang melakukan hal-hal yang berhubungan dengan persoalan kita. Kita jarang memikirkan bahwa Tuhan kita adalah Tuhan atas semesta alam. Dia mengatur semuanya dan membuatnya begitu indah. Dia tidak tergantung pada ciptaan. Artinya Dia tetap melakukan kehendak-Nya tanpa terganggu oleh situasi alam semesta.

Dia mengatur dan mengubah musim dan membuat ikan tetap berenang sekalipun gelombang lautan mengganas. Demikian juga dengan manusia yang diberi-Nya kemampuan beradaptasi dengan alam dimanapun dia berada. Dia memang Tuhan semesta alam yang harus dipuji. (SP)

Orang Percaya yang Memberitakan Injil

Injil adalah kabar baik tentang kasih Tuhan bagi manusia yang berdosa. Kabar tentang manusia yang seharusnya dihukum dalam hukuman kekal di neraka tetapi karena anugerah Tuhan, manusia diselamatkan.

Karena Injil adalah kabar baik maka sudah seharusnya Injil didengar oleh setiap orang. Sementara itu bagi yang telah menerima berita Injil dan beriman pada berita tersebut sudah seharusnya secara otomatis akan membagikan apa yang telah dialaminya sebagai suatu ungkapan sukacita dan penghormatan kepada Tuhan yang telah bermurah hati menyelamatkannya.

Bagi Tuhan pemberitaan Injil tidak hanya harus terjadi karena orang percaya tergerak melakukannya tetapi semua harus terjadi atas kehendak Tuhan. Tuhan adalah Tuhan yang tidak pernah menjadi pelengkap atas sesuatu. Tuhan adalah pencipta maka Dialah yang berinisiatif untuk kemuliaan-Nya. Dia yang menciptakan dunia dan segala isinya, Dia pula yang berinisiatif mencari manusia ketika manusia mencoba melarikan diri dari hadapan-Nya ketika manusia (Adam dan Hawa) melawan larangan-Nya. Demikian juga ketika Dia berinisiatif menganugerahkan Anak-Nya yang tunggal menjadi penebus dosa manusia durhaka.

Itulah sebabnya karena Injil adalah milik Tuhan maka semua yang berhubungan dengan Injil adalah harus atas kehendak-Nya. Tuhan yang memberikan perintah kepada orang percaya untuk memberitakan Injil (Matius 28:18-19; II Timotius 4:2). Perintah Tuhan ini adalah wibawa-Nya yaitu satu pernyataan bahwa Dia berkuasa atas semua hal yang berhubungan dengan karya-Nya. Inilah yang dimaksudkan Alkitab ketika rasul Paulus berkata bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya (Roma 1:16).

Injil sebagai kabar baik adalah kabar tentang kuasa Allah. Dan pemberitaan Injilpun adalah pernyataan kuasa Allah dalam diri pemberita dan beritanya. Artinya setiap orang yang melaksanakan tugas pemberitaan Injil ada dalam kuasa Tuhan. Tuhan yang menentukan siapa yang harus menjadi pembawa berita dari-Nya dan pembawa berita tersebut adalah manusia yang telah mengalami apa yang akan dia beritakan.

Tuhan dapat saja memerintahkan malaikat sebagai pembawa berita dan itu mungkin jauh lebih efektif daripada manusia, tetapi Tuhan tidak melaksanakannya karena malaikat tidak merasakan anugerah pengampunan dari-Nya. Malaikat juga tidak harus bertanggungjawab terhadap kejatuhan manusia. Manusialah yang harus bertanggungjawab atas kejatuhannya dan hanya manusia yang merasakan anugerah keselamatan dari Tuhan yang mengembalikan stausnya dari kejatuhan atau keterpisahan dengan Tuhan kepada kehidupan dalam Tuhan. Dari dosa kepada kesucian, dari kehinaan kepada kemuliaan dan dari mati kepada hidup kekal.

Manusia yang telah menerima pengampunan dari Tuhan disebut sebagai orang percaya adalah orang yang telah memiliki hubungan dengan Tuhan untuk berkomunikasi. Berkomunikasi dengan Tuhan artinya dia dapat mendengar Firman Tuhan yang memerintahkan manusia untuk memberitakan Injil. Karena komunikasi ini juga telah membuka kesempatan kepada orang percaya untuk mengkomunikasikan apa yang dari Tuhan kepada manusia lainnya.

Memiliki komunikasi dengan Tuhan berarti memiliki hak untuk mendengar Firman Tuhan dan melaksanakannya. Juga berarti memiliki hak untuk menjadi pembawa berita dari Tuhan dan menikmati kuasa Tuhan. Tidak mengherankan jika orang percaya pada saat menerima langsung perintah dari Tuhan dengan sukacita menjadi orang-orang yang memberitakan Injil dengan kasih yang menggebu-gebu kepada orang berdosa. Mereka melaksanakan amanat atau perintah Tuhan dengan perasaan bangga karena mereka telah merasakan kuasa Tuhan dalam hidup mereka. Mereka juga meneruskan berita tersebut kepada orang percaya lainnya dalam tulisan yang mereka nyatakan dalam Alkitab.

Dalam pemberitaan Injil, Tuhan bukan hanya menjadi pemberi perintah, tetapi Dia yang adalah sumber anugerah juga menganugerahkan penghargaan atau pahala kepada orang percaya yang dengan tulus dan penuh kasih melaksanakan perintah-Nya. Tuhan menjamin kehidupan orang percaya dalam kuasa-Nya yang luar biasa. Dia tidak pernah meninggalkan orang percaya dalam tugas pemberitaan Injil-Nya. Tidak heran jika kepada Timotius yang adalah anak imannya Paulus menyatakan "Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi pernyataan-Nya dan kerajaann-Nya. Beritakanlah Firman siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasehatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran." (II Timotius 4:1,2).

Maka sebagai orang percaya apakah kita termasuk orang yang memberitakan Injil? Apakah kita merasa sebagai orang-orang yang dipercayakan tugas mulia dari Allah yang mahakuasa yang selalu berinisiatif dalam bertindak?

Kristus Adalah Sumber Damai Sejahtera

Efesus 2:13-18

Sebelum percaya dan menerima Kristus, kita adalah seteru Allah, terpisah jauh oleh tembok pemisah karena dosa sehingga kita tidak dapat bertemu dengan Allah. Tetapi karena Kasih-Nya kepada manusia, maka Allah yang berinisiatif mencari manusia lewat kedatangan Kristus ke dunia ini. Kristus rela menderita, berkorban dan mati di atas kayu salib serta bangkit pada hari yang ke 3 (tiga), sehingga tembok pemisah itu diruntuhkan dan kita boleh kembali bersekutu dengan Allah.

Waktu mengalami penyaliban, tangan Kristus yang satu seperti memegang tangan kita dan tangan-Nya yang lain menggandeng tangan Allah Bapa. Sehingga kita yang sebelumnya sangat jauh dari Allah menjadi satu dengan Dia oleh pengorbanan dan kematian serta kebangkitan-Nya. Dia membawa dalam diri-Nya manusia yang berdosa dan Allah yang suci sehingga tercipta perdamaian antara Allah dan manusia.

Maka jelas sekali bahwa Yesus Kristus-lah sumber damai sejahtera karena Dia berkuasa untuk mendamaikan manusia dengan Allah Bapa (I Kor 5:19). Oleh pendamaian, kalau kita percaya dan menerima-Nya (Roma 10:9-10), maka status kita di hadapan Allah sebagai orang berdosa telah berubah menjadi orang Kudus bukan orang berdosa lagi (Ibrani 10:10). Kita pun berhak memanggil Allah kita Bapa karena kita adalah anak-Nya (Yohanes 1:12), dan sebagai anak-Nya kita memiliki pengharapan di sorga yang kekal (Filipi 3:20).

Kristus telah memberikan damai sejahtera dalam kehidupan kita dan itu tidak pernah berakhir karena bersumber dari-Nya. (AW)