Sabtu, 07 Desember 2013

Cara Terbaik Memuliakan Allah

oleh : Kristser J. R. Ratulangi

Mengapa Allah harus dimuliakan? Apakah Allah tidak mulia lagi jika tidak dimuliakan atau akan berkurangkah kemuliaan-Nya? Pertanyaan-pertanyaan ini pernah saya ajukan kepada jemaat yang akan mengambil bagian pelayanan di gereja untuk mengajak mereka merenungkan hakikat memuliakan Allah.
Rasul Paulus dalam I Korintus 6 menulis, 19Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam hatimu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, - dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? 20Sebab kamu telah dibeli dan harganya lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”. Tubuh kita adalah bait Roh Kudus atau tempat kediaman Roh Kudus. Roh Kudus itu menduduki dan berkuasa atas tubuh kita. Dengan menambahkan tentang Roh Kudus yang kita peroleh dari Allah pada pertanyaan retorisnya dalam ayat 19, Rasul Paulus mau menerangkan bahwa Allah berkuasa atas tubuh ini. Selanjutnya Rasul Paulus ingin menegaskan bahwa kita tidak mempunyai hak atas tubuh ini, kita bukanlah pemilik tubuh ini karena kita telah dibeli dengan harga yang sangat tinggi. Allah membeli kita  dengan mengorbankan nyawa anak-Nya yang tunggal (I Pet 1:18-19). Peristiwa ini sangat istimewa karena Allah membeli kita yang adalah ciptaan-Nya atau buatan-Nya sendiri dan dengan begitu Dia telah membeli kita dua kali. Jadi karena Allah berkuasa atas tubuh kita dan bahwa tubuh ini adalah milik-Nya, maka tubuh ini harus digunakan untuk kepentingan pemilik dan penguasanya. Tubuh ini untuk memuliakan Allah.

Dieksploitasi untuk memuliakan Allah.
Kebenaran di atas bisa membuat orang percaya merasa tereksploitasi karena diminta untuk memuliakan Allah dengan tubuhnya. Sepertinya Allah meminta balasan karena telah menyelamatkan kita dari lautan api neraka dan menjanjikan upah kepada yang membalas kebaikan-Nya. Kita mungkin merasa dibatasi karena tubuh ini tidak lagi dapat dipergunakan sesuai kemauan kita. Padahal sebelum menjadi orang percaya, kita punya rencana-rencana dan hasrat yang ingin kita gapai dalam hidup ini. Bahkan hingga sekarang kita masih sering menemukan bahwa banyak rencana kita yang tidak sejalan dengan rencana Allah, dan kita kecewa.
Ada cerita tentang seorang pemuda yang jatuh hati kepada seorang pemudi yang tidak percaya dan mempertimbangkan untuk menikahinya. Dia membawa si gadis kepada pelayan untuk diinjili, tetapi respon gadisnya terhadap pemberitaan Injil tidak seperti yang diharapkan. Karena begitu besar hasratnya dia membawa gadis itu kepada pelayan yang lain, hasilnya tetap mengecewakan. Sebelumnya, beberapa rekan pemudanya juga sudah mencoba memenangkan gadis itu tetapi hasilnya sama saja. Si pemuda akhirnya menyerah dan membatasi hubungan dengan gadisnya itu sebagai teman biasa saja. Sepintas terkesan pemuda ini taat pada kebenaran Firman untuk tidak bersatu antara terang dengan gelap, antara orang percaya dengan orang tidak percaya. Tetapi kekecewaan karena hasrat untuk menikahi gadis itu tidak dapat terwujud menunjukkan bahwa dia tidak melakukan kehendak Tuhan dengan sukacita. Rencananya tidak sejalan dengan rencana Allah dan dia kecewa.
Apakah pemuda ini memuliakan Allah? Menurut saya, dia terpaksa memuliakan Allah. Walaupun dia tahu bahwa Allah punya rencana-rencana yang indah dengan hidupnya, dia tidak bergemar dengan rencana Allah itu. Dia tidak berhasrat untuk melakukan kehendakNya.

Apa artinya memuliakan Allah?
Kita tahu bahwa Allah tidak akan kekurangan bahkan kehilangan kemuliaan walaupun semua umat manusia tidak memuliakan Dia. Jadi memuliakan Allah tidak berarti membuat Allah yang tidak mulia menjadi mulia atau membuat Allah yang kurang mulia menjadi bertambah mulia. Saya menyukai cara John Piper menjelaskannya :
[Arti memuliakan Allah] lebih menyerupai arti kata membesarkan. Tetapi di sini kita juga bisa menjadi keliru. Membesarkan mempunyai dua makna yang berbeda. Dalam kaitannya dengan Allah, yang satu adalah ibadah dan yang lainnya adalah kefasikan. Anda bisa membesarkan seperti sebuah teleskop atau seperti sebuah mikroskop. Ketika anda membesarkan seperti sebuah mikroskop, anda menjadikan sesuatu yang sangat kecil terlihat lebih besar daripada aslinya. Sebutir debu dapat terlihat seperti monster. Berpura-pura membesarkan Allah seperti itu adalah kefasikan. Tetapi ketika anda membesarkan seperti sebuah teleskop, anda menjadikan sesuatu yang besarnya tidak terbayangkan tampak seperti aslinya. Dengan Teleskop Hubble-Space, galaksi-galaksi sebesar peniti di angkasa diperlihatkan sebagai milyaran bintang raksasa seperti wujud aslinya. Membesarkan Allah seperti itu adalah ibadah.[1]
Memuliakan Allah adalah menjadikan Allah yang tidak terkira kemuliaannya tampak mulia sebagaimana adanya Dia. Cara memuliakan Allah adalah dengan memuliakan Kristus karena segala sesuatu diciptakan untuk kemuliaan Kristus. Kolose 1:16, “karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di Sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia”). Jadi kita diciptakan dan dibeli dengan harga yang tinggi untuk memuliakan Kristus dan Allah dimuliakan dengan cara memuliakan Kristus.

Hasrat untuk memuliakan Kristus.
Rasul Paulus dalam Filipi 1:20 mengatakan, “Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku”. Yang sangat dirindukannya dan yang sangat diharapkannya ialah bahwa Kristus dimuliakan di dalam tubuhnya. Satu-satunya hasrat Rasul Paulus adalah memuliakan Kristus di dalam tubuhnya. Hidup dan matinya adalah untuk memuliakan Kristus. Dalam Galatia 6:14 dia mengatakan, “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia”. Pertama, Rasul Paulus memandang bahwa pada Salib Kristus dunia telah disalibkan, artinya dunia dengan segala kemegahannya telah mati di Salib Kristus. Kemegahan dunia adalah sampah, baginya kemegahan dunia adalah sia-sia (Filipi 3:8). Kedua, Rasul Paulus memandang bahwa pada Salib Kristus, dia telah disalib dan mati bagi dunia. Itu berarti hidupnya yang sekarang adalah hidup yang baru (Galatia 2:20), hidupnya yang baru bukan bagi dunia melainkan bagi Kristus.
Kemudian dalam Filipi 1:21 Rasul Paulus mengatakan bahwa mati baginya adalah keuntungan. Kalau begitu apa arti hidupnya? Dia mengatakan hidup adalah Kristus, kongkritnya ada di Filipi 1:25 “supaya orang percaya makin maju dan bersukacita dalam iman”. Hidup Rasul Paulus adalah untuk kemajuan iman kita dan agar orang percaya bersukacita dalam imannya. Itulah hasrat dalam hidupnya, memuliakan Kristus dengan mempersembahkan hidupnya untuk kemajuan orang percaya dalam iman dan bersukacita dalam imannya itu. Betapa indahnya jika hal itu juga menjadi satu-satunya hasrat kita.

Orang yang paling memuliakan Kristus.
Seorang yang paling mengagungkan keindahan alam adalah orang yang paling menikmati keindahan tersebut. Dia dengan antusias akan menunjukkan keindahan alam tersebut agar orang lain dapat juga menikmatinya. Demikian halnya Rasul Paulus yang sangat menikmati sukacita dalam hidupnya yang memuliakan Kristus dan menginginkan orang percaya turut menikmati sukacita itu. Dalam Efesus 1:18 dia berdoa, “Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilanNya : betapa kaya kemuliaan bagian yang ditentukannya bagi orang-orang kudus.” Lihatlah Rasul Paulus yang telah mengerti pengharapan dalam Kristus dan karena telah menikmati kemuliaan Kristus, mengatakan dengan lantang : “betapa kaya kemuliaan bagian yang ditentukannya bagi orang-orang kudus”. John Piper mengatakan, “orang percaya yang paling memuliakan Kristus adalah mereka yang paling menikmati kemuliaan Kristus. Semakin dalam dia menikmati kemuliaan Kristus, semakin besar dia memuliakan Kristus”.
Faktanya hidup orang percaya yang menikmati kuasa kasih dan kemuliaan Kristus tidak hanya terdiri dari sukacita, orang percaya yang memuliakan Krisus juga menderita, tapi lihatlah pertentangan-pertentangan yang mengandung kebenaran yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam 2 Korintus 6:10  “sebagai orang yang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang yang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kamu memiliki segala sesuatu”. Tuhan Yesus menjanjikan ketenangan jiwa bagi mereka yang mau menderita karena mengikut Dia, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Matius 11:29).
Sudahkah kita menikmati kemuliaanNya dan dengan lantang berkata “sungguh luar biasa kemuliaan bagian yang ditentukan bagi saya?”


Siapa yang menyia-nyiakan?
Orang yang mengerti dengan sungguh tentang pengharapan akan kemuliaan besar yang terkandung dalam panggilan bagi orang-orang kudus, tidak akan mungkin melewatkannya begitu saja. Seperti orang yang menemukan harta terpendam di ladang, dia pergi dengan sukacita dan menjual seluruh harta miliknya untuk membeli ladang itu. Apakah kita akan melakukan hal yang sama? Siapa yang akan melewatkan kesempatan ini? Hanya orang yang tidak sungguh-sungguh mengerti nilai harta terpendam ini yang akan melewatkannya begitu saja. Saya yakin, Rasul Paulus mau semua orang percaya mengerti pengharapan akan kemuliaan Kristus yang disediakan bagi kita, sehingga dia berdoa dalam Surat Efesus 1:18, “Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilanNya : betapa kaya kemuliaan bagian yang ditentukannya bagi orang-orang kudus.”

Kita yang sudah tahu nilai kemuliaan yang disediakan bagi kita, apakah kita sudah melepaskan hasrat duniawi yang menurut kita begitu berharga tetapi yang sebenarnya merupakan kesia-siaan untuk diganti dengan hasrat untuk memperoleh kemuliaan yang tidak ternilai itu? Kerinduan saya, kita semua mengerti alasan yang benar dalam  memuliakan Allah, bukanlah untuk membuat Allah menjadi mulia atau bertambah mulia, karena Allah tetap mulia selama-lamanya. Kita memuliakan Allah karena kemuliaan tidak terkira yang telah dikaruniakan-Nya, yang  kita nikmati dalam hidup sekarang ini dan yang akan kita terima dalam hidup nanti. Hal berikut dapat dipakai untuk menilai diri sendiri, apakah kita sedang memuliakan Allah? Jika kita terpaksa menjalankan aktifitas pelayanan kita dalam persekutuan, di tempat kerja, dalam rumah tangga dan dimana saja kita berinteraksi dan melayani, maka kita tidak memuliakan Allah. Jika kita menikmati sukacita dan bergemar dalam melakukan kehendak Allah, kita sedang memuliakan Allah.
Semakin dalam kita menikmati kemuliaan Kristus, semakin besar kita memuliakan Kristus, dan dengan cara itu Allah sangat dimuliakan. “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam Sorga!” (Efesus 1:3)

[1] John Piper, Don’t Waste Your Life (Jangan Menyia-nyiakan Hidup Anda), Cetakan ke-3, Pionir Jaya, 2011

Selasa, 19 November 2013

Dedikasi

1 Korintus 15:58

Kuantitas dan kualitas waktu yang kita berikan kepada suatu perkara akan menunjukkan seberapa besar perhatian, prioritas dan dedikasi kita kepadanya. Orang yang setiap hari berolahraga, pastilah orang yang memprioritaskan kesehatan tubuhnya. Orang yang suka berdoa dan membaca Alkitab pastilah orang yang memprioritaskan hubungannya dengan Tuhan. Suami yang selalu menyediakan waktu makan atau berkumpul bersama-sama dengan istri dan anak-anaknya, pastilah suami yang berdedikasi tinggi terhadap keluarganya.

Nelson Mandela adalah pemimpi pembebasan kaum kulit hitam dari politik Apartheid yang diberlakukan orang kulit putih Afrika Selatan. Dia telah mendedikasikan waktu, tenaga pikiran bahkan kebebasannya sendiri, demi persamaan hak orang kulit hitam. Ia dikenal bukan karena ia ganteng atau berkharisma, tetapi karena kurang lebih 20 tahun menghabiskan waktunya di penjara. Semua dilakukannya dengan dedikasinya yang penuh pada keadilan.

Dedikasi yang penuh berbicara tentang mengalokasikan semua sumber daya yang kita miliki kepada satu prinsip yang kita pegang dan kita yakini. Sehingga terkadang menuntut kita berkorban. Karena orang yang berdedikasi penuh tidak pernah hitung-hitungan. Sekarang pertanyaan bagi kita apakah kita adalah orang yang berdedikasi dalam melakukan pekerjaan Tuhan? Apakah kita adalah orang yang berdedikasi penuh dalam melakukan persekutuan atau ibadah dengan Tuhan? Kita tahu bahwa jerih payah yang kita lakukan untuk pekerjaan Tuhan, tidak akan sia-sia. (AW)

Sabtu, 16 November 2013

Teruji dan Benar

Banyak orang menyebut diri Baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?
(Amsal 20:6)

Kita sering kecewa terhadap orang yang tidak setia. Seorang sanak keluarga berjanji akan menulis surat, tetapi bulan-bulan berlalu tanpa ada surat yang diterima. Seorang pendeta berkata bahwa ia akan mengunjungi bila kita sakit, tetapi ia tidak pernah datang ke rumah sakit atau ke rumah kita. Seorang sahabat setuju akan menemani kita dalam kemalangan, tetapi menelepon pun tidak. Banyak orang berkata akan mendoakan kita, tetapi mereka cepat melupakan kebutuhan kita. Seseorang berjanji akan melakukan suatu tugas penting bagi kita, tetapi tak pernah melakukannya. Kita bertanya-tanya, “Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?” (Amsal 20:6).
Kita tidak dapat berbuat banyak terhadap ketidaksetiaan orang lain. Tetapi kita dapat melakukan banyak hal untuk kesetiaan kita terhadap orang lain. Apabila kita berjanji, kita harus menepatinya. Bila kita berkata kepada seseorang bahwa kita akan berdoa baginya, kita perlu menindaklanjuti dan melakukannya. Apabila kita menyatakan kesetiaan dan kasih kepada orang lain, maka kita dapat melakukan hal-hal kecil yang menunjukkan kepada mereka bahwa kita serius.
Rasul Paulus mengatakan bahwa salah satu buah Roh adalah kesetiaan (Galatia 5:22). Allah akan menciptakan di dalam diri kita roh yang teguh jika kita menganggap serius apa yang kita katakan kepada orang lain tentang hal-hal yang akan kita lakukan bagi mereka, dan jika kita menepatinya.
Mintalah Allah menjadikan Anda orang yang dapat dipercaya, yakni orang yang teruji dan benar - DR

Disadur dari www.kidung.com

Tim M-AVI GIKKI Ambon




Vas Niat Baik

Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa
(Yakobus 4:17)

Dalam kartun Peanuts karya Charles Schulz, Marcie memberi bunga kepada gurunya. Tidak mau kalah, Peppermint Patty berkata kepada guru itu, “Saya berpikir untuk melakukan hal yang sama Bu, tetapi saya tidak pernah meluangkan waktu untuk melakukannya. Dapatkah Anda memakai vas yang berisi niat baik?”
Kita semua pernah mempunyai niat untuk melakukan sesuatu yang baik, tetapi kemudian gagal untuk menindaklanjuti niat itu. Kita mungkin ingin menelepon untuk mengetahui kabar seorang sahabat, atau mengunjungi seorang tetangga yang sedang sakit, atau menulis pesan untuk memberi dorongan kepada seorang yang terkasih. Tetapi kita tidak meluangkan waktu.
Beberapa orang tahu bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan ke surga, dan mereka berencana untuk memercayai-Nya kelak. Namun, mereka selalu menundanya. Mereka mungkin memiliki niat baik, namun hal itu tidak membawa keselamatan.
Sebagai orang kristiani, kita mungkin mengatakan bahwa kita ingin bertumbuh lebih dekat kepada Tuhan. Tetapi entah bagaimana, kita tidak menyediakan waktu untuk membaca firman Allah atau berdoa.
Yakobus telah memberi peringatan yang keras mengenai masalah tidak mengambil tindakan: “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa” (4:17).
Adakah sesuatu yang kita tunda? Tulislah kartu atau surat itu hari ini. Kunjungilah teman yang sakit itu. Jika Anda tahu bahwa Tuhan Yesus telah berkorban bagi kita semua di atas kayu salib, untuk menghapus semua dosa kita, satu kali dan untuk selamanya, maka bertindaklah, yaitu PERCAYA akan karya-Nya tersebut. 

Vas yang penuh niat baik tidak akan mencerahkan hari seseorang - AC

Disadur dari www.kidung.com (edit)

ALLAH YANG MUTLAK

Aku, Tuhan, tidak berubah
(Maleakhi 3:6)

Saya meragukan ketepatan timbangan badan yang terletak di kamar mandi kami. Karena itu saya telah belajar untuk memanipulasinya dengan cara saya sendiri. Saya dapat mengubah-ubah tombol kecil di samping timbangan, dan jika hal itu terlalu sulit, saya cukup memiringkan badan ke arah tertentu. Tujuannya adalah untuk memperoleh angka yang bagus semoga saja berkurang beberapa kilogram.
Kita hidup pada zaman di mana banyak orang merasa yakin bahwa tidak ada hal yang mutlak. Sikap melayani diri sendiri merajalela dan menginjak-injak hukum moral yang diberikan bagi perlindungan masyarakat. Budaya kita membanggakan "kebebasan" yang sesungguhnya merupakan perbudakan dari dosa (Roma 6:16,17).
Namun ada Allah yang mutlak dan timbangan-Nya selalu tepat. Bersama Dia, satu kilo adalah satu kilo, benar adalah benar, dan salah adalah salah. Dia berkata, "Aku, Tuhan, tidak berubah" (Maleakhi 3:6).
Bagi kita sebagai orang percaya, hal ini seperti besi baja yang menjadi tulang punggung rohani kita. Kita mendapatkan rasa percaya diri saat menghadapi kesulitan dan memperoleh keyakinan akan penggenapan setiap janji ilahi.
Apabila Allah dapat dengan mudah berubah pikiran, maka kehidupan kekal kita akan terus-menerus berada di dalam situasi yang membahayakan. Akan tetapi, karena Dia merupakan Pribadi Yang Tidak Berubah, maka kita "tidak akan lenyap" (ayat 6). "Tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi" (Ratapan 3:22,23)  - PR

Disadur dari www.kidung.com

Kamis, 07 November 2013

Allah Semesta Alam

Mazmur 8:4

Biasanya kita akan terkagum-kagum melihat pesta kembang api pada malam hari. Warna-warni yang indah bertebaran di angkasa malam membentuk pemandangan yang menakjubkan. Tetapi keindahan tersebut tidak pernah lama berlangsung karena kembang api itu berjatuhan dan akhirnya lenyap. Tetapi jika mata kita masih tetap menatap angkasa malam maka terlihat kerlap-kerlip bintang di kejauhan yang tidak berjatuhan padahal dia tidak bergantung pada sesuatu.

Pernahkah kita berpikir bagaimana Tuhan meletakkan bintang-bintang itu di atas sana? Bagaimana Dia melakukannya? Demikian juga pertanyaan yang sama akan kita ajukan terhadap kehadiran matahari dan perputaran bumi, angin yang berhembus, hutan yang lebat, hujan yang membasahi bumi, gurun yang tandus dan sebagainya. Bagaimana semua itu bisa teratur?

Banyak kali kita hanya melihat Tuhan sebagai Tuhan yang melakukan hal-hal yang berhubungan dengan persoalan kita. Kita jarang memikirkan bahwa Tuhan kita adalah Tuhan atas semesta alam. Dia mengatur semuanya dan membuatnya begitu indah. Dia tidak tergantung pada ciptaan. Artinya Dia tetap melakukan kehendak-Nya tanpa terganggu oleh situasi alam semesta.

Dia mengatur dan mengubah musim dan membuat ikan tetap berenang sekalipun gelombang lautan mengganas. Demikian juga dengan manusia yang diberi-Nya kemampuan beradaptasi dengan alam dimanapun dia berada. Dia memang Tuhan semesta alam yang harus dipuji. (SP)

Orang Percaya yang Memberitakan Injil

Injil adalah kabar baik tentang kasih Tuhan bagi manusia yang berdosa. Kabar tentang manusia yang seharusnya dihukum dalam hukuman kekal di neraka tetapi karena anugerah Tuhan, manusia diselamatkan.

Karena Injil adalah kabar baik maka sudah seharusnya Injil didengar oleh setiap orang. Sementara itu bagi yang telah menerima berita Injil dan beriman pada berita tersebut sudah seharusnya secara otomatis akan membagikan apa yang telah dialaminya sebagai suatu ungkapan sukacita dan penghormatan kepada Tuhan yang telah bermurah hati menyelamatkannya.

Bagi Tuhan pemberitaan Injil tidak hanya harus terjadi karena orang percaya tergerak melakukannya tetapi semua harus terjadi atas kehendak Tuhan. Tuhan adalah Tuhan yang tidak pernah menjadi pelengkap atas sesuatu. Tuhan adalah pencipta maka Dialah yang berinisiatif untuk kemuliaan-Nya. Dia yang menciptakan dunia dan segala isinya, Dia pula yang berinisiatif mencari manusia ketika manusia mencoba melarikan diri dari hadapan-Nya ketika manusia (Adam dan Hawa) melawan larangan-Nya. Demikian juga ketika Dia berinisiatif menganugerahkan Anak-Nya yang tunggal menjadi penebus dosa manusia durhaka.

Itulah sebabnya karena Injil adalah milik Tuhan maka semua yang berhubungan dengan Injil adalah harus atas kehendak-Nya. Tuhan yang memberikan perintah kepada orang percaya untuk memberitakan Injil (Matius 28:18-19; II Timotius 4:2). Perintah Tuhan ini adalah wibawa-Nya yaitu satu pernyataan bahwa Dia berkuasa atas semua hal yang berhubungan dengan karya-Nya. Inilah yang dimaksudkan Alkitab ketika rasul Paulus berkata bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya (Roma 1:16).

Injil sebagai kabar baik adalah kabar tentang kuasa Allah. Dan pemberitaan Injilpun adalah pernyataan kuasa Allah dalam diri pemberita dan beritanya. Artinya setiap orang yang melaksanakan tugas pemberitaan Injil ada dalam kuasa Tuhan. Tuhan yang menentukan siapa yang harus menjadi pembawa berita dari-Nya dan pembawa berita tersebut adalah manusia yang telah mengalami apa yang akan dia beritakan.

Tuhan dapat saja memerintahkan malaikat sebagai pembawa berita dan itu mungkin jauh lebih efektif daripada manusia, tetapi Tuhan tidak melaksanakannya karena malaikat tidak merasakan anugerah pengampunan dari-Nya. Malaikat juga tidak harus bertanggungjawab terhadap kejatuhan manusia. Manusialah yang harus bertanggungjawab atas kejatuhannya dan hanya manusia yang merasakan anugerah keselamatan dari Tuhan yang mengembalikan stausnya dari kejatuhan atau keterpisahan dengan Tuhan kepada kehidupan dalam Tuhan. Dari dosa kepada kesucian, dari kehinaan kepada kemuliaan dan dari mati kepada hidup kekal.

Manusia yang telah menerima pengampunan dari Tuhan disebut sebagai orang percaya adalah orang yang telah memiliki hubungan dengan Tuhan untuk berkomunikasi. Berkomunikasi dengan Tuhan artinya dia dapat mendengar Firman Tuhan yang memerintahkan manusia untuk memberitakan Injil. Karena komunikasi ini juga telah membuka kesempatan kepada orang percaya untuk mengkomunikasikan apa yang dari Tuhan kepada manusia lainnya.

Memiliki komunikasi dengan Tuhan berarti memiliki hak untuk mendengar Firman Tuhan dan melaksanakannya. Juga berarti memiliki hak untuk menjadi pembawa berita dari Tuhan dan menikmati kuasa Tuhan. Tidak mengherankan jika orang percaya pada saat menerima langsung perintah dari Tuhan dengan sukacita menjadi orang-orang yang memberitakan Injil dengan kasih yang menggebu-gebu kepada orang berdosa. Mereka melaksanakan amanat atau perintah Tuhan dengan perasaan bangga karena mereka telah merasakan kuasa Tuhan dalam hidup mereka. Mereka juga meneruskan berita tersebut kepada orang percaya lainnya dalam tulisan yang mereka nyatakan dalam Alkitab.

Dalam pemberitaan Injil, Tuhan bukan hanya menjadi pemberi perintah, tetapi Dia yang adalah sumber anugerah juga menganugerahkan penghargaan atau pahala kepada orang percaya yang dengan tulus dan penuh kasih melaksanakan perintah-Nya. Tuhan menjamin kehidupan orang percaya dalam kuasa-Nya yang luar biasa. Dia tidak pernah meninggalkan orang percaya dalam tugas pemberitaan Injil-Nya. Tidak heran jika kepada Timotius yang adalah anak imannya Paulus menyatakan "Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi pernyataan-Nya dan kerajaann-Nya. Beritakanlah Firman siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasehatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran." (II Timotius 4:1,2).

Maka sebagai orang percaya apakah kita termasuk orang yang memberitakan Injil? Apakah kita merasa sebagai orang-orang yang dipercayakan tugas mulia dari Allah yang mahakuasa yang selalu berinisiatif dalam bertindak?

Kristus Adalah Sumber Damai Sejahtera

Efesus 2:13-18

Sebelum percaya dan menerima Kristus, kita adalah seteru Allah, terpisah jauh oleh tembok pemisah karena dosa sehingga kita tidak dapat bertemu dengan Allah. Tetapi karena Kasih-Nya kepada manusia, maka Allah yang berinisiatif mencari manusia lewat kedatangan Kristus ke dunia ini. Kristus rela menderita, berkorban dan mati di atas kayu salib serta bangkit pada hari yang ke 3 (tiga), sehingga tembok pemisah itu diruntuhkan dan kita boleh kembali bersekutu dengan Allah.

Waktu mengalami penyaliban, tangan Kristus yang satu seperti memegang tangan kita dan tangan-Nya yang lain menggandeng tangan Allah Bapa. Sehingga kita yang sebelumnya sangat jauh dari Allah menjadi satu dengan Dia oleh pengorbanan dan kematian serta kebangkitan-Nya. Dia membawa dalam diri-Nya manusia yang berdosa dan Allah yang suci sehingga tercipta perdamaian antara Allah dan manusia.

Maka jelas sekali bahwa Yesus Kristus-lah sumber damai sejahtera karena Dia berkuasa untuk mendamaikan manusia dengan Allah Bapa (I Kor 5:19). Oleh pendamaian, kalau kita percaya dan menerima-Nya (Roma 10:9-10), maka status kita di hadapan Allah sebagai orang berdosa telah berubah menjadi orang Kudus bukan orang berdosa lagi (Ibrani 10:10). Kita pun berhak memanggil Allah kita Bapa karena kita adalah anak-Nya (Yohanes 1:12), dan sebagai anak-Nya kita memiliki pengharapan di sorga yang kekal (Filipi 3:20).

Kristus telah memberikan damai sejahtera dalam kehidupan kita dan itu tidak pernah berakhir karena bersumber dari-Nya. (AW)