Mengapa Allah harus dimuliakan?
Apakah Allah tidak mulia lagi jika tidak dimuliakan atau akan berkurangkah kemuliaan-Nya?
Pertanyaan-pertanyaan ini pernah saya ajukan kepada jemaat yang akan mengambil
bagian pelayanan di gereja untuk mengajak mereka merenungkan hakikat memuliakan
Allah.
Rasul Paulus dalam I Korintus 6 menulis,
“19Atau tidak tahukah kamu,
bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam hatimu, Roh Kudus yang
kamu peroleh dari Allah, - dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? 20Sebab
kamu telah dibeli dan harganya lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan
tubuhmu!”. Tubuh kita adalah bait Roh Kudus atau tempat kediaman Roh Kudus.
Roh Kudus itu menduduki dan berkuasa atas tubuh kita. Dengan menambahkan
tentang Roh Kudus yang kita peroleh dari Allah pada pertanyaan retorisnya dalam
ayat 19, Rasul Paulus mau menerangkan bahwa Allah berkuasa atas tubuh ini. Selanjutnya
Rasul Paulus ingin menegaskan bahwa kita tidak mempunyai hak atas tubuh ini, kita
bukanlah pemilik tubuh ini karena kita telah dibeli dengan harga yang sangat
tinggi. Allah membeli kita dengan mengorbankan
nyawa anak-Nya yang tunggal (I Pet 1:18-19). Peristiwa ini sangat istimewa
karena Allah membeli kita yang adalah ciptaan-Nya atau buatan-Nya sendiri dan
dengan begitu Dia telah membeli kita dua kali. Jadi karena Allah berkuasa atas tubuh
kita dan bahwa tubuh ini adalah milik-Nya, maka tubuh ini harus digunakan untuk
kepentingan pemilik dan penguasanya. Tubuh ini untuk memuliakan Allah.
Dieksploitasi untuk memuliakan Allah.
Kebenaran di atas bisa membuat orang percaya
merasa tereksploitasi karena diminta untuk memuliakan Allah dengan tubuhnya. Sepertinya
Allah meminta balasan karena telah menyelamatkan kita dari lautan api neraka dan
menjanjikan upah kepada yang membalas kebaikan-Nya. Kita mungkin merasa
dibatasi karena tubuh ini tidak lagi dapat dipergunakan sesuai kemauan kita.
Padahal sebelum menjadi orang percaya, kita punya rencana-rencana dan hasrat yang
ingin kita gapai dalam hidup ini. Bahkan hingga sekarang kita masih sering menemukan
bahwa banyak rencana kita yang tidak sejalan dengan rencana Allah, dan kita
kecewa.
Ada cerita tentang seorang pemuda yang
jatuh hati kepada seorang pemudi yang tidak percaya dan mempertimbangkan untuk menikahinya.
Dia membawa si gadis kepada pelayan untuk diinjili, tetapi respon gadisnya terhadap
pemberitaan Injil tidak seperti yang diharapkan. Karena begitu besar hasratnya
dia membawa gadis itu kepada pelayan yang lain, hasilnya tetap mengecewakan. Sebelumnya,
beberapa rekan pemudanya juga sudah mencoba memenangkan gadis itu tetapi
hasilnya sama saja. Si pemuda akhirnya menyerah dan membatasi hubungan dengan
gadisnya itu sebagai teman biasa saja. Sepintas terkesan pemuda ini taat pada
kebenaran Firman untuk tidak bersatu antara terang dengan gelap, antara orang
percaya dengan orang tidak percaya. Tetapi kekecewaan karena hasrat untuk
menikahi gadis itu tidak dapat terwujud menunjukkan bahwa dia tidak melakukan kehendak
Tuhan dengan sukacita. Rencananya tidak sejalan dengan rencana Allah dan dia
kecewa.
Apakah pemuda ini memuliakan Allah? Menurut
saya, dia terpaksa memuliakan Allah. Walaupun dia tahu bahwa Allah punya
rencana-rencana yang indah dengan hidupnya, dia tidak bergemar dengan rencana Allah
itu. Dia tidak berhasrat untuk melakukan kehendakNya.
Apa artinya memuliakan Allah?
Kita tahu bahwa Allah tidak akan
kekurangan bahkan kehilangan kemuliaan walaupun semua umat manusia tidak
memuliakan Dia. Jadi memuliakan Allah tidak berarti membuat Allah yang tidak
mulia menjadi mulia atau membuat Allah yang kurang mulia menjadi bertambah
mulia. Saya menyukai cara John Piper menjelaskannya :
[Arti memuliakan Allah] lebih
menyerupai arti kata membesarkan. Tetapi di sini kita juga bisa menjadi keliru.
Membesarkan mempunyai dua makna yang berbeda. Dalam kaitannya dengan Allah,
yang satu adalah ibadah dan yang lainnya adalah kefasikan. Anda bisa
membesarkan seperti sebuah teleskop atau seperti sebuah mikroskop. Ketika anda
membesarkan seperti sebuah mikroskop, anda menjadikan sesuatu yang sangat kecil
terlihat lebih besar daripada aslinya. Sebutir debu dapat terlihat seperti
monster. Berpura-pura membesarkan Allah seperti itu adalah kefasikan. Tetapi
ketika anda membesarkan seperti sebuah teleskop, anda menjadikan sesuatu yang
besarnya tidak terbayangkan tampak seperti aslinya. Dengan Teleskop
Hubble-Space, galaksi-galaksi sebesar peniti di angkasa diperlihatkan sebagai
milyaran bintang raksasa seperti wujud aslinya. Membesarkan Allah seperti itu
adalah ibadah.[1]
Memuliakan Allah adalah menjadikan
Allah yang tidak terkira kemuliaannya tampak mulia sebagaimana adanya Dia. Cara
memuliakan Allah adalah dengan memuliakan Kristus karena segala sesuatu diciptakan untuk kemuliaan
Kristus. Kolose 1:16, “karena di dalam
Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di Sorga dan yang ada di bumi,
yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik
pemerintah maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia”).
Jadi kita diciptakan dan dibeli dengan harga yang tinggi untuk memuliakan
Kristus dan Allah dimuliakan dengan cara memuliakan Kristus.
Hasrat untuk memuliakan Kristus.
Rasul Paulus dalam Filipi 1:20
mengatakan, “Sebab yang sangat kurindukan
dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu,
melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dimuliakan di dalam
tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku”. Yang sangat dirindukannya
dan yang sangat diharapkannya ialah bahwa Kristus dimuliakan di dalam tubuhnya.
Satu-satunya hasrat Rasul Paulus adalah memuliakan Kristus di dalam tubuhnya. Hidup
dan matinya adalah untuk memuliakan Kristus. Dalam Galatia 6:14 dia mengatakan,
“Tetapi aku sekali-kali tidak mau
bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah
disalibkan bagiku dan aku bagi dunia”. Pertama, Rasul Paulus memandang
bahwa pada Salib Kristus dunia telah disalibkan, artinya dunia dengan
segala kemegahannya telah mati di Salib Kristus. Kemegahan dunia adalah sampah,
baginya kemegahan dunia adalah sia-sia (Filipi 3:8). Kedua, Rasul Paulus
memandang bahwa pada Salib Kristus, dia telah disalib dan mati bagi
dunia. Itu berarti hidupnya yang sekarang adalah hidup yang baru (Galatia 2:20),
hidupnya yang baru bukan bagi dunia melainkan bagi Kristus.
Kemudian dalam Filipi 1:21 Rasul Paulus mengatakan bahwa mati baginya adalah keuntungan. Kalau begitu apa arti
hidupnya? Dia mengatakan hidup adalah Kristus, kongkritnya ada di Filipi 1:25 “supaya orang percaya makin maju dan
bersukacita dalam iman”. Hidup Rasul Paulus adalah untuk kemajuan iman kita
dan agar orang percaya bersukacita dalam imannya. Itulah hasrat dalam hidupnya,
memuliakan Kristus dengan mempersembahkan hidupnya untuk kemajuan orang percaya
dalam iman dan bersukacita dalam imannya itu. Betapa indahnya jika hal itu juga
menjadi satu-satunya hasrat kita.
Orang yang paling memuliakan Kristus.
Seorang yang paling mengagungkan keindahan alam adalah orang yang paling
menikmati keindahan tersebut. Dia dengan antusias akan menunjukkan keindahan
alam tersebut agar orang lain dapat juga menikmatinya. Demikian halnya Rasul
Paulus yang sangat menikmati sukacita dalam hidupnya yang memuliakan Kristus
dan menginginkan orang percaya turut menikmati sukacita itu. Dalam Efesus 1:18 dia
berdoa, “Dan supaya Ia menjadikan mata
hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam
panggilanNya : betapa kaya kemuliaan bagian yang ditentukannya bagi orang-orang
kudus.” Lihatlah Rasul Paulus yang telah mengerti pengharapan dalam Kristus
dan karena telah menikmati kemuliaan Kristus, mengatakan dengan lantang :
“betapa kaya kemuliaan bagian yang ditentukannya bagi orang-orang kudus”. John
Piper mengatakan, “orang percaya yang paling memuliakan Kristus adalah mereka
yang paling menikmati kemuliaan Kristus. Semakin dalam dia menikmati kemuliaan
Kristus, semakin besar dia memuliakan Kristus”.
Faktanya hidup orang percaya yang menikmati kuasa kasih dan kemuliaan
Kristus tidak hanya terdiri dari sukacita, orang percaya yang memuliakan Krisus
juga menderita, tapi lihatlah pertentangan-pertentangan yang mengandung
kebenaran yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam 2 Korintus 6:10 “sebagai
orang yang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang yang
miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun
kamu memiliki segala sesuatu”. Tuhan Yesus menjanjikan ketenangan jiwa bagi
mereka yang mau menderita karena mengikut Dia, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah
lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Matius 11:29).
Sudahkah kita menikmati kemuliaanNya dan dengan lantang berkata “sungguh
luar biasa kemuliaan bagian yang ditentukan bagi saya?”
Siapa yang menyia-nyiakan?
Orang yang
mengerti dengan sungguh tentang pengharapan akan kemuliaan besar yang
terkandung dalam panggilan bagi orang-orang kudus, tidak akan mungkin melewatkannya
begitu saja. Seperti orang yang menemukan harta terpendam di ladang, dia pergi dengan
sukacita dan menjual seluruh harta miliknya untuk membeli ladang itu. Apakah kita
akan melakukan hal yang sama? Siapa yang akan melewatkan kesempatan ini? Hanya
orang yang tidak sungguh-sungguh mengerti nilai harta terpendam ini yang akan melewatkannya
begitu saja. Saya yakin, Rasul
Paulus mau semua orang percaya mengerti pengharapan akan kemuliaan Kristus yang
disediakan bagi kita, sehingga dia berdoa dalam Surat Efesus 1:18, “Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu
terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam
panggilanNya : betapa kaya kemuliaan bagian yang ditentukannya bagi orang-orang
kudus.”
Kita yang sudah tahu nilai kemuliaan yang disediakan bagi kita, apakah
kita sudah melepaskan hasrat duniawi yang menurut kita begitu berharga tetapi yang
sebenarnya merupakan kesia-siaan untuk diganti dengan hasrat untuk memperoleh
kemuliaan yang tidak ternilai itu? Kerinduan saya, kita semua mengerti alasan yang
benar dalam memuliakan Allah, bukanlah
untuk membuat Allah menjadi mulia atau bertambah mulia, karena Allah tetap
mulia selama-lamanya. Kita memuliakan Allah karena kemuliaan tidak terkira yang
telah dikaruniakan-Nya, yang kita nikmati
dalam hidup sekarang ini dan yang akan kita terima dalam hidup nanti. Hal
berikut dapat dipakai untuk menilai diri sendiri, apakah kita sedang memuliakan
Allah? Jika kita terpaksa menjalankan aktifitas pelayanan kita dalam
persekutuan, di tempat kerja, dalam rumah tangga dan dimana saja kita
berinteraksi dan melayani, maka kita tidak memuliakan Allah. Jika kita
menikmati sukacita dan bergemar dalam melakukan kehendak Allah, kita sedang
memuliakan Allah.
Semakin dalam kita menikmati kemuliaan Kristus, semakin besar kita
memuliakan Kristus, dan dengan cara itu Allah sangat dimuliakan. “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus
Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani
di dalam Sorga!” (Efesus 1:3)
[1] John
Piper, Don’t Waste Your Life (Jangan Menyia-nyiakan Hidup Anda), Cetakan ke-3,
Pionir Jaya, 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar