Sabtu, 07 Desember 2013

Cara Terbaik Memuliakan Allah

oleh : Kristser J. R. Ratulangi

Mengapa Allah harus dimuliakan? Apakah Allah tidak mulia lagi jika tidak dimuliakan atau akan berkurangkah kemuliaan-Nya? Pertanyaan-pertanyaan ini pernah saya ajukan kepada jemaat yang akan mengambil bagian pelayanan di gereja untuk mengajak mereka merenungkan hakikat memuliakan Allah.
Rasul Paulus dalam I Korintus 6 menulis, 19Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam hatimu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, - dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? 20Sebab kamu telah dibeli dan harganya lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”. Tubuh kita adalah bait Roh Kudus atau tempat kediaman Roh Kudus. Roh Kudus itu menduduki dan berkuasa atas tubuh kita. Dengan menambahkan tentang Roh Kudus yang kita peroleh dari Allah pada pertanyaan retorisnya dalam ayat 19, Rasul Paulus mau menerangkan bahwa Allah berkuasa atas tubuh ini. Selanjutnya Rasul Paulus ingin menegaskan bahwa kita tidak mempunyai hak atas tubuh ini, kita bukanlah pemilik tubuh ini karena kita telah dibeli dengan harga yang sangat tinggi. Allah membeli kita  dengan mengorbankan nyawa anak-Nya yang tunggal (I Pet 1:18-19). Peristiwa ini sangat istimewa karena Allah membeli kita yang adalah ciptaan-Nya atau buatan-Nya sendiri dan dengan begitu Dia telah membeli kita dua kali. Jadi karena Allah berkuasa atas tubuh kita dan bahwa tubuh ini adalah milik-Nya, maka tubuh ini harus digunakan untuk kepentingan pemilik dan penguasanya. Tubuh ini untuk memuliakan Allah.

Dieksploitasi untuk memuliakan Allah.
Kebenaran di atas bisa membuat orang percaya merasa tereksploitasi karena diminta untuk memuliakan Allah dengan tubuhnya. Sepertinya Allah meminta balasan karena telah menyelamatkan kita dari lautan api neraka dan menjanjikan upah kepada yang membalas kebaikan-Nya. Kita mungkin merasa dibatasi karena tubuh ini tidak lagi dapat dipergunakan sesuai kemauan kita. Padahal sebelum menjadi orang percaya, kita punya rencana-rencana dan hasrat yang ingin kita gapai dalam hidup ini. Bahkan hingga sekarang kita masih sering menemukan bahwa banyak rencana kita yang tidak sejalan dengan rencana Allah, dan kita kecewa.
Ada cerita tentang seorang pemuda yang jatuh hati kepada seorang pemudi yang tidak percaya dan mempertimbangkan untuk menikahinya. Dia membawa si gadis kepada pelayan untuk diinjili, tetapi respon gadisnya terhadap pemberitaan Injil tidak seperti yang diharapkan. Karena begitu besar hasratnya dia membawa gadis itu kepada pelayan yang lain, hasilnya tetap mengecewakan. Sebelumnya, beberapa rekan pemudanya juga sudah mencoba memenangkan gadis itu tetapi hasilnya sama saja. Si pemuda akhirnya menyerah dan membatasi hubungan dengan gadisnya itu sebagai teman biasa saja. Sepintas terkesan pemuda ini taat pada kebenaran Firman untuk tidak bersatu antara terang dengan gelap, antara orang percaya dengan orang tidak percaya. Tetapi kekecewaan karena hasrat untuk menikahi gadis itu tidak dapat terwujud menunjukkan bahwa dia tidak melakukan kehendak Tuhan dengan sukacita. Rencananya tidak sejalan dengan rencana Allah dan dia kecewa.
Apakah pemuda ini memuliakan Allah? Menurut saya, dia terpaksa memuliakan Allah. Walaupun dia tahu bahwa Allah punya rencana-rencana yang indah dengan hidupnya, dia tidak bergemar dengan rencana Allah itu. Dia tidak berhasrat untuk melakukan kehendakNya.

Apa artinya memuliakan Allah?
Kita tahu bahwa Allah tidak akan kekurangan bahkan kehilangan kemuliaan walaupun semua umat manusia tidak memuliakan Dia. Jadi memuliakan Allah tidak berarti membuat Allah yang tidak mulia menjadi mulia atau membuat Allah yang kurang mulia menjadi bertambah mulia. Saya menyukai cara John Piper menjelaskannya :
[Arti memuliakan Allah] lebih menyerupai arti kata membesarkan. Tetapi di sini kita juga bisa menjadi keliru. Membesarkan mempunyai dua makna yang berbeda. Dalam kaitannya dengan Allah, yang satu adalah ibadah dan yang lainnya adalah kefasikan. Anda bisa membesarkan seperti sebuah teleskop atau seperti sebuah mikroskop. Ketika anda membesarkan seperti sebuah mikroskop, anda menjadikan sesuatu yang sangat kecil terlihat lebih besar daripada aslinya. Sebutir debu dapat terlihat seperti monster. Berpura-pura membesarkan Allah seperti itu adalah kefasikan. Tetapi ketika anda membesarkan seperti sebuah teleskop, anda menjadikan sesuatu yang besarnya tidak terbayangkan tampak seperti aslinya. Dengan Teleskop Hubble-Space, galaksi-galaksi sebesar peniti di angkasa diperlihatkan sebagai milyaran bintang raksasa seperti wujud aslinya. Membesarkan Allah seperti itu adalah ibadah.[1]
Memuliakan Allah adalah menjadikan Allah yang tidak terkira kemuliaannya tampak mulia sebagaimana adanya Dia. Cara memuliakan Allah adalah dengan memuliakan Kristus karena segala sesuatu diciptakan untuk kemuliaan Kristus. Kolose 1:16, “karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di Sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia”). Jadi kita diciptakan dan dibeli dengan harga yang tinggi untuk memuliakan Kristus dan Allah dimuliakan dengan cara memuliakan Kristus.

Hasrat untuk memuliakan Kristus.
Rasul Paulus dalam Filipi 1:20 mengatakan, “Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku”. Yang sangat dirindukannya dan yang sangat diharapkannya ialah bahwa Kristus dimuliakan di dalam tubuhnya. Satu-satunya hasrat Rasul Paulus adalah memuliakan Kristus di dalam tubuhnya. Hidup dan matinya adalah untuk memuliakan Kristus. Dalam Galatia 6:14 dia mengatakan, “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia”. Pertama, Rasul Paulus memandang bahwa pada Salib Kristus dunia telah disalibkan, artinya dunia dengan segala kemegahannya telah mati di Salib Kristus. Kemegahan dunia adalah sampah, baginya kemegahan dunia adalah sia-sia (Filipi 3:8). Kedua, Rasul Paulus memandang bahwa pada Salib Kristus, dia telah disalib dan mati bagi dunia. Itu berarti hidupnya yang sekarang adalah hidup yang baru (Galatia 2:20), hidupnya yang baru bukan bagi dunia melainkan bagi Kristus.
Kemudian dalam Filipi 1:21 Rasul Paulus mengatakan bahwa mati baginya adalah keuntungan. Kalau begitu apa arti hidupnya? Dia mengatakan hidup adalah Kristus, kongkritnya ada di Filipi 1:25 “supaya orang percaya makin maju dan bersukacita dalam iman”. Hidup Rasul Paulus adalah untuk kemajuan iman kita dan agar orang percaya bersukacita dalam imannya. Itulah hasrat dalam hidupnya, memuliakan Kristus dengan mempersembahkan hidupnya untuk kemajuan orang percaya dalam iman dan bersukacita dalam imannya itu. Betapa indahnya jika hal itu juga menjadi satu-satunya hasrat kita.

Orang yang paling memuliakan Kristus.
Seorang yang paling mengagungkan keindahan alam adalah orang yang paling menikmati keindahan tersebut. Dia dengan antusias akan menunjukkan keindahan alam tersebut agar orang lain dapat juga menikmatinya. Demikian halnya Rasul Paulus yang sangat menikmati sukacita dalam hidupnya yang memuliakan Kristus dan menginginkan orang percaya turut menikmati sukacita itu. Dalam Efesus 1:18 dia berdoa, “Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilanNya : betapa kaya kemuliaan bagian yang ditentukannya bagi orang-orang kudus.” Lihatlah Rasul Paulus yang telah mengerti pengharapan dalam Kristus dan karena telah menikmati kemuliaan Kristus, mengatakan dengan lantang : “betapa kaya kemuliaan bagian yang ditentukannya bagi orang-orang kudus”. John Piper mengatakan, “orang percaya yang paling memuliakan Kristus adalah mereka yang paling menikmati kemuliaan Kristus. Semakin dalam dia menikmati kemuliaan Kristus, semakin besar dia memuliakan Kristus”.
Faktanya hidup orang percaya yang menikmati kuasa kasih dan kemuliaan Kristus tidak hanya terdiri dari sukacita, orang percaya yang memuliakan Krisus juga menderita, tapi lihatlah pertentangan-pertentangan yang mengandung kebenaran yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam 2 Korintus 6:10  “sebagai orang yang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang yang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kamu memiliki segala sesuatu”. Tuhan Yesus menjanjikan ketenangan jiwa bagi mereka yang mau menderita karena mengikut Dia, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Matius 11:29).
Sudahkah kita menikmati kemuliaanNya dan dengan lantang berkata “sungguh luar biasa kemuliaan bagian yang ditentukan bagi saya?”


Siapa yang menyia-nyiakan?
Orang yang mengerti dengan sungguh tentang pengharapan akan kemuliaan besar yang terkandung dalam panggilan bagi orang-orang kudus, tidak akan mungkin melewatkannya begitu saja. Seperti orang yang menemukan harta terpendam di ladang, dia pergi dengan sukacita dan menjual seluruh harta miliknya untuk membeli ladang itu. Apakah kita akan melakukan hal yang sama? Siapa yang akan melewatkan kesempatan ini? Hanya orang yang tidak sungguh-sungguh mengerti nilai harta terpendam ini yang akan melewatkannya begitu saja. Saya yakin, Rasul Paulus mau semua orang percaya mengerti pengharapan akan kemuliaan Kristus yang disediakan bagi kita, sehingga dia berdoa dalam Surat Efesus 1:18, “Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilanNya : betapa kaya kemuliaan bagian yang ditentukannya bagi orang-orang kudus.”

Kita yang sudah tahu nilai kemuliaan yang disediakan bagi kita, apakah kita sudah melepaskan hasrat duniawi yang menurut kita begitu berharga tetapi yang sebenarnya merupakan kesia-siaan untuk diganti dengan hasrat untuk memperoleh kemuliaan yang tidak ternilai itu? Kerinduan saya, kita semua mengerti alasan yang benar dalam  memuliakan Allah, bukanlah untuk membuat Allah menjadi mulia atau bertambah mulia, karena Allah tetap mulia selama-lamanya. Kita memuliakan Allah karena kemuliaan tidak terkira yang telah dikaruniakan-Nya, yang  kita nikmati dalam hidup sekarang ini dan yang akan kita terima dalam hidup nanti. Hal berikut dapat dipakai untuk menilai diri sendiri, apakah kita sedang memuliakan Allah? Jika kita terpaksa menjalankan aktifitas pelayanan kita dalam persekutuan, di tempat kerja, dalam rumah tangga dan dimana saja kita berinteraksi dan melayani, maka kita tidak memuliakan Allah. Jika kita menikmati sukacita dan bergemar dalam melakukan kehendak Allah, kita sedang memuliakan Allah.
Semakin dalam kita menikmati kemuliaan Kristus, semakin besar kita memuliakan Kristus, dan dengan cara itu Allah sangat dimuliakan. “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam Sorga!” (Efesus 1:3)

[1] John Piper, Don’t Waste Your Life (Jangan Menyia-nyiakan Hidup Anda), Cetakan ke-3, Pionir Jaya, 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar